Sabtu, 03 Februari 2018

MENGOLAH DATA POTENSI WILAYAH BINAAN



IDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH, EKOSISTEM PERAIRAN, KEBUTUHAN TEKNOLOGI, PELAKU UTAMA, DAN PELAKU USAHA BIDANG PERIKANAN  
Oleh : Asmuri, S.Pi,/NIP.19641231 198603 1 202




A.        Judul        : Mengolah Data / Informasi tentang potensi Wilayah Wilayah Binaan

B.        Waktu Pelaksanaan             :  Januari 2018
C.        Tujuannya
1.         Untuk mengetahui potensi wilayah binaan sebagai bahan untuk menyusun Rencana Kerja penyuluh perikanan Tahun 2019.

2.         Untuk mengetahui Data Sekunder dan data primer yang digunakan sebagai bahan untuk menyusun Rencana Kerja Penyuluh Perikanan Tahun 2019.

D.        Jenis Data
1.         Berdasarkan bentuknya  ; Data kuantitatif dan Data Kualitatif.
2.        Jenis data adalah Data Sekunder yang diolah dari berbagai sumber



I.          KEADAAN UMUM WILAYAH BINAAN
           
A.       Bio Fisik
1.        Deskripsi Umum Wilayah Binaan
Secara geografis Desa Bonto Bahari dan Desa  Tunikamaseang berada di wilayah Kecamatan Bontoa, jarak dari ibukota kecamatan 1 - 3 km dan jarak dari ibukota kabupaten antara 10-15 km. Luas wilayah Desa Bonto Bahari berjumlah 15,71 km ² terdiri dari 3 (tiga) dusun yaitu:1) Dusun Baji Areng, 2) Dusun Cambayya ,dan 3) Dusun Sabanga dengan batas – batas sebagai berikut :
-                Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pajukukang.
-                Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Lau.
-                Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Lau.
-                Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Luas wilayah Desa Tunikamaseang berjumlah 6,24 km² terdiri atas 5 (lima) dusun yaitu : 1) DusunKassijala, 2) Dusun Lengkese, 3) Dusun jangka-Jangkayya,4) Dusun Pattalassang, dan 5) Dusun Bonto-Bonto dengan batas-batas sebagai berikut :
-                Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tunikamaseng
-                Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Bontoa
-                Sebelah Timur berbatasan dengan kelurahan Bontoa
-                Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tupabbiring.
Keadaan tofografi kedua desa ini umumnya dataran rendah, dengan ketinggian 0 – 10 m dpl, dengan panjang pantai ± 3 km.

2.        Karakteristik Tanah dan Iklim
Kabupaten Maros memiliki keragaan jenis tanah yakni tanah mediteran , alluvial , tanah  dan tanah latosol dengan tingkat keasaman tanah (pH) berkisar antara 4,5 – 7,5.
Berdasarkan banyaknya curah hujan di Kabupaten Maros dapat dibagi beberapa zone iklim menurut OLDAMAN dan kriteri iklim di Kecamatan Bontoa memiliki tipe iklim C2.Tipe iklim C2 : jumlah bulan basah 5 – 6 bulan dan bulan kering 2 -3 bulan . Namun Demikian, musim hujan jatuh pada periode Oktober sampai Maret dan musim kemarau jatuh pada periode April sampai September.

Keadaan rata-rata  curah hujan  dan hari hujan selama  5 (Lima) tahun terakhir ( 2012-2016 ) untuk setiap bulan dapat dilihat pada tabel 1 berikut .

Tabel 1.  Jumlah Curah Hujan dan hari Hujan setiap bulan Kabupaten Maros dari Tahun 2012- 2016
B u l a n
Jumlah Curah Hujan
Jumlah Hari Hujan
2012
2013
2014
2015
2016
2012
2013
2014
2015
2016
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
Januari
611
1 308
975
1.174
491
23
30
30
31
21
Pebruari
433
564
327
421
583
27
21
21
22
23
Maret
574
286
265
398
379
25
18
18
13
25
April
230
425
287
208
202
21
22
22
20
22
M e i
264
117
185
57
221
16
26
26
9
15
J u n i
69
148
41
62
119
10
19
19
11
16
J u l i
44
212
36
-
101
9
24
24
0
11
Agustus
-
3
7
-
5
2
3
3
0
1
September
2
4
-
-
66
3
3
3
0
15
Oktober
115
101
-
-
317
7
9
9
0
24
Nopember
198
279
138
70
222
19
18
18
17
22
Desember
359
813
708
777
436
25
26
26
25
27

Sumber Data : Kabupaten Maros Dalam Angka, 2012 - 2016

            Gambaran curah hujan pada tahun 2016 di Kabupaten Maros seperti pada gambar 1 berikut :
 
 
Gambar 1. Curah Hujan Kab. Maros

3.        Luas Lahan menurut Penggunaannya
Wilayah Desa Bonto Bahari seluas 15,71 km² dan desa Tunikamaseang seluas 6,24 km², dimanfaatkan untuk lahan sawah, tambak, lahan kering yang dimanfaatkan untuk perumahan ,hutan dan lain-lain untuk peruntukan lainnya. Adapun lahan menurut  penggunaannya seperti pada table 2.


Table. 2. Luas Lahan Menurut Penggunaannya di Wilayah Binaan
NO.
DESA
PENGGUNAAN LAHAN
LUAS (Ha)
I.
BONTO BAHARI

1.    Lahan Sawah
2.    Lahan kering
3.    Tambak
4.    Hutan bakau
5.    Lain-lain
66,79
--
578,10
7,00
914,46


Jumlah

1,571,00
II.
TUNIKAMASEANG
1.    Lahan Sawah
2.    Lahan kering
3.    Tambak
4.    Hutan bakau
5.    Lain-lain
202,22
14,86
247,25
2,00
157,67

Jumlah

624,00

Persentase penggunaan lahan kedua wilayah binaan sebagai berikut :


 

 Gambar 2. Penggunaan Lahan di Desa Bonto Bahari,2017

 

 
Gambar 3.  Penggunaan Lahan di Desa Tunikamaseang, 2017

Kedua desa wilayah binaan ini merupakan daerah yang dataran rendah dan merupakan daerah estuaria sehingga penggunaan lahannya umumnya dikelola sebagai tambak. Sumber airnya  diperoleh langsung dari melalui saluran sekunder yang dibangun oleh pemerintah. Namun umumnya memanfaatkan sungai sebgai saluran primer dan selanjutnya menggunakan saluran sekunder dan selanjutnya ke areal tambak. Khusus saluran tersier, umumnya adalah milik sendiri. Sampai saat di beberapa lokasi telah menggali sumur bor yang dimanfaatkan untuk mengairi tambak. Untuk menaikkan air, menggunakan pompa. Adapun luas lahan tambak dan kolam yang dimanfaatkan untuk usaha perikanan pada table 3.
Tabel 3. Luas Lahan Untuk Usaha Perikanan di Wilayah Binaan
No.
DESA/DUSUN
LAHAN USAHA (Ha)
JUMLAH (Ha)
TAMBAK
KOLAM
I.
BONTO BAHARI

1.    Baji Areng
2.    Cambayya
3.    Sabanga



75,65
384,35
118,10


3,25
1,40
--


78,90
385,85
118,00


jumlah
578,10
4,65
582,75
II.
TUNIKAMASEANG

1.    Kassijala
2.    Lengkese
3.    Jangka-Jangkayya
4.    Pattallassang
5.    Bonto-Bonto



28,14
50,12
75,13
48,55
45,31


--
--
--
--
--



28,14
50,12
75,13
48,55
45,31

Jumlah
247,25
--
247,25

 

 Gambar 4.  Luas Lahan Tambak di Desa Bonto Bahari, 2017

 
 

Gambar 5. Luas Lahan Tambak di Desa Tunikamaseang, 2017

4.     Keadaan Penduduk Wilayah Binaan

Penduduk wilayah binaan  yaitu Desa Bonto Bahari berjumlah 1.304 jiwa terdiri atas laki-laki berjumlah 590 jiwa dan perempuan 714 jiwa dan di Desa Tunikamaseang berjumlah 3.486 jiwa terdiri atas laki-laki berjumlah 1.643 jiwa dan  perempuan berjumlah 1.843 jiwa.
Jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin,jumlah penduduk di Desa Bonto Bahari dan Desa Tunikamaseang seperti pada table 4 berikut :

Table. 4. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Desa Bonto Bahari dan Desa Tunikamaseang , 2017.

No.
Kelompok Umur
Jumlah Penduduk (jiwa)
Desa Bonto Bahari
Desa Tunikamaseang
1.
0 - 4
64
67
131
178
173
351
2.
5 – 9
59
65
124
166
168
334
3.
10 -14
62
67
129
173
174
347
4.
15 – 19
66
73
139
184
190
374
5.
20 - 24
61
64
125
170
165
335
6.
25 - 29
44
55
99
122
141
263
7.
30 - 34
39
53
92
107
136
243
8.
35 – 39
36
50
86
101
128
229
9.
40 – 44
38
53
91
105
136
241
10.
45 – 49
35
42
77
96
109
205
11.
50 – 54
25
38
63
70
97
167
12.
55 – 59
22
26
48
62
68
130
13.
60 - 64
14
21
35
40
55
95
14.
65 +
25
40
65
69
103
172

JUMLAH
590
714
1.304
1.643
1.843
3.486

Berdasarkan mata pencaharian, jumlah penduduk di Desa Bonto Bahari dan Desa Tunikamaseang seperti pada table 5.



Tabel 5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Bonto Bahari dan Desa Tunikamaseang tahun 2017.

No.
Mata pencaharian
Desa
Bonto Bahari
Tunikamaseang
1.
Petani
104
357
2.
Petambak
179
244
3.
Peternak
114
198
4.
Nelayan
270
131
5.
Pedagang
17
138
6.
Jasa
5
9
7.
Angkutan
8
14
8.
Home industry
1
6
9.
PNS
6
16
Jumlah
797
1.113



 



Gambar 6.  Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Bonto Bahari, 2017



 


 Gambar 7. Jumlah Penduduk berdasarkan Mata pencaharian di desa Tunikamaseang, 2017

5.      Lembaga Penunjang
Lembaga / instansi pemerintah maupun swasta yang diharapkan mendukung dan melayani kebutuhan dan kepentingan pelaku utama di wilayah binaan , seperti pada table 6 .
Table 6. Lembaga Penunjang di Desa Bonto Bahari dan Desa Tunikamaseang,  Tahun 2017.

No.
Kelembagaan
Wilayah Binaan
Desa Bonto Bahari
Desa Tunikamaseang
1.
Koperasi Tani
1
1
2.
Kios Saprodi
1
5
3.
Penggelondongan Benur/nener
1
5
4.
Pasar
--
--
5.
Pedagang pengumpul
--
6


6.     Sarana dan Prasarana Perikanan
Sarana dan prasarana transportasi, komunikasi meruapakan faktor yang sangat menunjang kelancaran suatu kegiatan. Dengan lancarnya transportasi maka aktifitas masyarakat semakin meningkat sehingga penyebaran informasi dapat terlaksana dengan baik.
Sarana transportasi berupa jalan sebagai sarana penunjang untuk pembangunan perikanan, di wilayah binaan telah diupayakan perbaikannya .Seluruh wilayah binaan telah dijangkau dengan jalan transportasi walau ada lokasi yang dijangkau melalui laut seperti KUB Kunjung Mange.
Untuk memudahkan hubungan komunikasi dengan kelompok, seluruh kelompok telah memiliki alat komunikasi berupa HP sehingga informasi dengan mudah didapatkan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar