Sabtu, 27 Januari 2018

MERUMUSKAN KEBUTUHAN TEKNOLOGI



MERUMUSKAN KEBUTUHAN TEKNOLOGI PERIKANAN
“ BUDIDAYA IKAN NILA DITAMBAK “

I.          PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Pengembangan usaha budidaya ditambak merupakan salah satu  kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan produksi Perikanan dan diharapkan meningkatkan pendapatan pelaku utama yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan pelaku utama. Usaha budidaya ditambak sudah lama dilakukan oleh pelaku utama dan komudidtas yang diusahakan yaitu udang, ikan bandeng dan rumput laut. 
Di beberapa wilayah, khususnya di kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) Berua Dusun Rammang – Rammang Desa Salenrang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros, pengembangan usaha budidaya udang dan ikan bandeng belum bisa dikembangkan secara optimal. Hal ini disebabkan karena potensi tambak yang dimiliki oleh anggota kelompok berjumlah 17,00 Ha yang dikelola oleh 20 orang anggota, air yang digunakan untuk budidaya  merupakan air cenderung mengarah ke air tawar, karena salinitasnya selama lima bulan umumnya dibawah sepuluh pormil.
Keadaan ini diupayakan oleh anggota kelompok untuk melakukan budidaya ikan nila ditambak. Budidaya ikan nila dapat dilakukan mulai pada awal musim hujan yaitu bulan Desember sampai dengan bulan Mei setiap tahunnya.  Kondisi air tambak pada saat itu merupakan air tawar dan menjelang bulan april kualitas air khususnya salinitas sudah mengarah ke air payau, namun untuk usaha budidaya ikan nila masih sangat dimungkinkan karena ikan nila merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai sifat euryhaline yaitu mampu beradaptasi terhadap salinitas rendah sampai tinggi dan mampu hidup pada kisaran salinita antara 0 – 45 ‰ (pormil) sehingga jenis ikan potensial untuk dibudidayakan di tambak.
Keunggulan ikan ini ialah pertumbuhannya sangat cepat, respons terhadap pakan buatan, resisten atau tahan terhadap  serangan penyakit, dapat hidup terhadap penebaran yang tinggi, rasa dagingnya enak serta pemasarannya sudah meluas baik konsumsi dalam negeri maupun luar negeri.
  Pengembangan ikan nila ditambak , anggota kelompok belum menguasai teknologinya, sehingga anggota kelompok membutuhkan rumusah teknlogi budidaya yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan budidaya. Teknologi budidaya  yang diharapkan anggota yaitu mulai dari persyaratan lokasi, persiapan tambak, penebaran dan pemeliharaan dan panen.
  Sehubungan dengan hal tersebut, maka dirumuskanlah kebutuhan teknologi budidaya ikan nila ditambak.Rumusan kebutuhan teknologi Budidaya ikan nila di tambak, akan menjadi bahan pertimbangan bagi anggota kelompok untuk mengetahui dan menerapkan teknologi budidaya ikan nila ditambak.

B.       Tujuan

Tujuan disusunnya rumusan kebutuhan teknologi ini adalah :
1.        Sebagai pedoman  bagi anggota kelompok yang akan melakukan budidaya ikan nila di tambak.
2.        Meningkatkan kapasitas pelaku utama dalam mengelola tambaknya pada usaha budidaya ikan nila di tambak.

C.       Sasaran

Anggota kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Berua Desa Salerang Kecamtan Bontoa Kabupaten Maros berjumlah 20 orang.

D.       Manfaat

Manfaat rumusan ini yaitu  sebagai pedoman bagi anggota kelompok yang memelihara ikan nila di tambak.


II.        KONDISI KELOMPOK PELAKU UTAMA


Kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) Berua adalah salah satu kelompok di Desa Salenrang beranggotakan sebanyak 20 orang,  memiliki lahan tambak seluas 17,00Ha. Komoditi yang diusahakan anggota saat ini yaitu udang dan ikan bandeng. Para anggota telah menerapkan teknologi budidaya dengan pola polykultur. Jenis udang yang dibudidayakan umumnya udang windu dengan padat tebar antara 5.000-15.000 ekor/Ha dan nener berjumlah 1.000 – 1.500 ekor/ha. Produksi  yang dicapai yaitu udang rata-rata 85 kg/Ha dan ikan bandeng rata-rata 200 kg/ Ha.
Wilayah kelompok Berua memiliki kondisi wilayah yang sumber airnya berasal dari sungai dan kondisi kualitas air perairan tersebut yaitu berupa air tawar dan pada bulan April sampai dengan bulan November kulaitas airnya cenderung payau, keadaan ini memungkinkan untuk budidaya ikan nila.
Budidaya ikan nila sudah dikenal oleh anggota kelompok, karena sudah pernah dilakukan percontohan budidaya ikan nila sistim mina padi. Produksi hasil mina padi tersebut dilanjutkan untuk dibudidayakan  ditambak pada awal bulan April sampai dengan bulanJuni. Hasil produksinya  belum maksimal karena anggota kelompok belum mengusai teknologinya.
Para anggota sangat antusias untuk budidaya ikan nilai karena mempunyai  keunggulan yaitu : (a) pemasarannya sangat mudah, karena rammang-Rammang daerah pariwisata dan beberapa tempat membutuhkan ikan nila sebagai salah satu menu di warung makan, (b) Mudah dipelihara, (c) diterima dimasayarakat.


     III.       PERMASALAHAN YANG DIHADAPI


Budidaya ikan nila di tambak yang telah dilakukan oleh anggota kelompok, mengalami permasalahan sehingga produksinya belum optimal. Masalah-masalah yang dijumpai diantaranya :
1.        Persiapan tambak masih belum optimal sehingga gas-gas beracun yang ada dapat  berpengaruh terhadap ikan yang dipeilhara.
2.        Pakan alami belum optimal pertumbuhannya sehingga memasuki bulan kedua, sudah mulai berkurang.
3.        Belum dilakukan pemberantasan hama secara baik,sehingga masih ada ikan-ikan liar yang hidup dan menjadi penyaing dalam budidaya ikan nila.
4.        Pengangkutanbenih belum dikuasai oleh anggota kelompok sehingga benih yang diangkut sering terjadi ada yang mati.
5.        Pemberian pakan tambahan belum dikuasai oleh anggota baik, dosis, waktu dan jumlah pemberian.


 
IV.      RUMUSAN TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN NILA DI TAMBAK


Untuk memudahkan anggota kelompok melakukan budidaya ikan nila dan tersedianya teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh anggota maka dirumuskanlah  teknologi budidaya ikan.

A.       Persyaratan Lokasi
Persyaratan lokasi yang dapat dijadikan tempat budidaya ikan nila ditambak  diantaranya :

1.        Sumber Air
2.        Memiliki sumber air laut dan air tawar yang baik dan tidak tercemar. Memenuhi persyaratan kualiatas air : 1) salinitas air : 0 – 35 ‰, 2) pH : 6,5 – 8,0, 3) oksigen terlarut : 5,0 – 8,0, 4) suhu 25 – 32 ⁰C, 5) kedalaman tambak: 50-100 cm.
3.        Lokasi tambak yang baik yaitu tambak yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan maksud untuk memudahkan pergantian air di dalam tambak. Saluran keluar masuknya air cukup lancar dan tergantung pada kondisi geografisnya.
4.        Lokasi yang mempunyai tekstur tanah yang kedap air (tidak poros) diantaranya lempung berpasir, liat, lempung liat, lempung berpasir dan lempung berlumpur atau liat berpasir.
5.        Lahan pantai dengan elevasi terendam air sedalam 0,5 – 1,0 m selama periode rata-rata pasang tinggi, dan dapat dikeringkan secara tuntas pada saat surut terendah.
6.        Kondisi air tidak terlalu keruh sehingga matahari dapat langsung menembus kedalam dasar air.
7.        Bebas polusi baik limbah yang berasal dari pabrik industry maupun rumah tangga.

Aspek lain yang harus diperhatikan ialah aspek social, hal ini terkait dengan tingkat kesiapan dan respon masyarakat dalam menerima teknologi, dukungan dan kemauan masyarakat dalam menerima usaha tersebut.

B.       Persiapan Tambak
1.        Pengolahan Tanah Dasar
Pengeringan dasar tambak hingga retak-retak selama 3-7 hari atau jika diinjak tanah turun 1-2 cm. Sebaiknya pelataran dicangkul sedalam 10 cm dan selama pengeringan dilakukan kedok teplok  yaitu menaikkan lumpur halus keatas pematang, tujuannya adalah untuk mempercepat proses mineralisasi (perombakan) bahan organik dan menetralisir gas-gas beracun seperti hidrogen sulfat (H2S), amonia (NH3) dan metan (CH4) yang berbahaya bagi ikan dipelihara. Selama pengeringan dan keduk teplok  dilakukan perbaikan pematang serta pintu air dan kelengkapannya yaitu memasang saringan  # 0,5 mm dipintu air. Pemasangan saringan harus dilaksanakan secara cermat agar selama pemeliharaan ikan tidak lepas. Dianjurkan memasang kere bambu didepan pintu air didalam petakan tambak. Kere  tersebut dilapisi kasa nylon dengan mata jala 0,5 – 1,0 mm. untuk mengetahui ketiggian air selama pemeliharaan, perlu dipasang papan penunjuk ketinggian air dan dipasang dipelataran tambak.

2.        Pemberantasan Hama
Pemberantasan hama dilakukan untuk membunuh ikan-ikan liar dan hewan lainnya yang ada dalam tambak, dapat mengganggu pertumbuhan ikan nila. Ikan-ikan liar merupakan predator dan kompetitor bagi ikan yang dipelihara. Pemberantasan hama menggunakan bungkil biji teh (saponin) dengan dosis sebagai berikut:

  Kadar garam kurang dari 15 ppt: 20 ppm ( 20 – 30 kg/Ha)
  Kadar  garam  lebih  dari   15 ppt: 15 ppm (15 – 20 Kg/Ha)

Aplikasi penggunaan saponin yaitu terlebih dahulu saponin direndam selama 12 jam. Selanjutnya ditebar secara merata dalam tambak pada saat ketinggian air tambak 10 cm. Bahan aktif saponin akan hilang setelah 2 hari aplikasi.

3.        Pengapuran
Pengapuran dasar tambak dilakukan untuk menetralkan atau menaikkan pH sampai normal (6,5 – 8,0) dan sekaligus mengurangi bakteri patogen. .Jumlah kapur yang digunakan tergantung nilai pH tanah dasar. Makin rendah pH tanah, semakin tinggi jumlah kapur yang diperlukan. Dosis kapur Kg/Ha berdasarkan pH tanah yang digunakan sebagai berikut :

 Tabel 1. Dosis Penggunaan Kapur dan jenis kapur di Tambak.
pH Tanah
Kapur Pertanian (CaCO3)
Kapur Tohor /Bakar  Ca (OH)2)
> 6
< 1.000 kg
< 750 kg
5 – 6
< 2.000 kg
< 1.000 kg
> 5
< 3.000 kg
< 1.500 kg
4.        Pemupukan
Pemupukan tambak dengan maksud meningkatkan unsur hara yang  diperlukan oleh jasad pakan alami yang ingin ditumbuhkan . Pupuk yang digunakan berupa pupuk organik dan an organik. Pupuk organik yang digunakan diantaranya  pupuk kotoran ayam, kotoran sapi , pupuk kompos, bhokasi,  dosis 13 ton /ha, ditebar pada saat dasar tambak masih kering. Pupuk an organik dilakukan dengan dosis urea 100 kg/Ha dan SP 75 Kg/Ha, ditebar merata dipelataran saat tambak masih macak-macak. Selanjutnya air tambak ditinggikan menjadi10 cm diatas pelataran. Setelah 1 minggu saat klekap mulai  tumbuh  di dasar tambak, air ditambah lagi sampai 30-40 cm.  selanjutnya menjelang penebaran dilakukan penambahan air sampai setinggi 70-100 cm.

C.       Penebaran Benih
Setelah makanan alami sudah tumbuh, maka tambak siap untuk ditebari. Ketersediaan benih ikan harus disiapkan  pada saat persiapan tambak, yaitu dengan cara memesan benih ikan di panti pembenihan ikan nila  sesuai jumlah yang yang akan ditebar. Pemilihan panti pembenihan ikan yang ditempati untuk membeli benih ikan, harus mempunyai cara pembibitan yang baik serta mempunyai catatan mengenai asal induk, pakan, obat yang digunakan serta informasi penting lainnya yang dibutuhkan tentang benih ikan. tujuannya ; agar diperoleh benih yang baik dan sehat karena diperoleh dari seleksi benih yang baik.
Kualitas benih ikan yang ditebar sangat menentukan keberhasilan budidaya ikan nila dan benih yang kurang sehat atau sakit akan terhambat pertumbuhannya dan berbahaya karena akan menularkan penyakit ke ikan lainnya pada wadah pemeliharaan yang sama.
Secara morfologi, benih ikan yang mempunyai kualitas yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut :

1)        Bentuk badan normal dan masih ada lendir.
2)        Berasal dari mono ras/hibrid dari galur murni
3)        Gerakan ikan lincah.
4)        Mempunyai respon yang tinggi terhadap pakan yang diberikan.
5)        Ukurannya seragam dan umurnya sama.
6)        Tidak terdapat luka
7)        Bebas dan tahan dari penyakit.
8)        Warna cerah.
9)        Tubuh tidak mengalami cacat.
10)     Laju pertumbuhan cepat.
11)     Sehat dan tidak cacat fisik

Sebelum penebaran, langkah awal yang perlu dipertimbangkan adalah pengangkutan benih. Ada dua jenis sistem pengangkutan benih yang digunakan dalam pengiriman ikan nila, yaitu pengangkutan sistem tertutup dan sistem terbuka.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan benih, yaitu sebagai berikut :

a.    Jumlah benih yang diangkut tergantung pada ukuran benih dan waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan.
b.    Benih hendaknya di berokkan (tidak di beri pakan) dahulu selama satu hari.

Pengangkutan benih dilkukan dengan sistim tertutup, terutama pengangkutan yang memerlukan waktu lebih 4 jam. Pengangukan dilakukan dengan menggunakan kantong plastic volume 8 liter dan diberi buffer sebanyak 9 gram. Perbandingan oksigen dengan air yaitu 1:1.
Penebaran bibit dilakukan pada pagi sebelum pukul 08.00 atau sore hari antara 17.00 – 20.00 malam, pada saat suhu air tidak panas. Sebelum penebaran, harus dilakuakn penyesuaian terhadap lingkungan agar tidak stress. Penyesuaian lingkungan dilakukan terhadap suhu dan salinitas. Penyesuaian suhu dilakukan dengan cara bibit yang tiba di tambak, diapung-apungkan pada sudut tambak lebih kurang 30 – 45 menit. Apabila kantong plastic sudah berembun, berarti suhu sudah sesuai.Selanjutnya dilakukan penyesuaian salinitas. Sebelum dilakukan penyesuaian salinitas, dilakukan pengukuran untuk mengetahui salinitas air tambak. Selanjutnya kantong plastic di dibuka dan dilakukan penambahan air tambak ke dalam kantong plastic sedikit demi sedikit. Miringkan kantong plastic sehingga bibit ikan yang kuat dan telah sesuai dengan kondisi air  akan segera keluar dan biarkan hingga ikan keluar seluruhnya.
Ukuran benih yang ideal untuk pembesaran ditambak adalah minimal zise 5 – 8 cm dengan berat rata2 6 gram/ekor. Padat penebaran benih ikan nila disesuaikan dengan daya dukung lahan, kondisi kualitas air dan pola usaha yang akan diterapkan.. Padat tebar yang dianjurkan seperti tabel 2:

Tabel 2. Padat Tebar Ideal untuk Budidaya Ikan Nila di Tambak

JENIS IKAN
Padat Tebar (ekor/m²)
Tradisional
Semi intensif
intensif
Nila Hitam
1 - 2
3 - 5
5 – 7
Nila Merah
1 - 3
3 - 7
5 - 10

Sumber : Linggi K (2015)

D.       Pemeliharaan
Teknik pemeliharaan pada pembesaran ikan Nila harus dilakukan secara optimal agar tidak mengalami kegagalan dalam kegiatan budidaya. Hal yang diperhatikan dalam membudidayakan ikan Nila yaitu lingkungan budidaya yang meliputi faktor fisika, kimia, dan biologi  serta melakukan pengendalian terhadap ancaman hama dan penyakit bagi ikan yang dibudidayakan. Faktor fisika meliputi kecerahan, kekeruhan, dan salinitas yang terdapat dalam air,  kemudian faktor kimia mencakup pH, Alkalinitas, suhu, dan oksigen terlarut, serta biologi mengenai tumbuhan, plankton atau makanan alami  yang dapat berpengaruh terhadap ikan yang dipelihara. Keadaan air disekitar tambak budidaya yang harus tetap stabil, karena apabila hal tersebut tidak diperhatikan akan berdampak buruk dan lambat laun dapat mengakibatkan kematian bagi ikan.  Teknik pemeliharaan Nila Merah (Oreochromis niloticus) ditambak pembesaran memiliki beberapa  hal yang harus perhatikan diantaranya sebagai berikut:

1.      Pemantauan Kualitas Air
Satu diantara beberapa faktor yang berpengaruh dalam kegiatan budidaya untuk pembesaran ikan nila di tambak adalah kualitas air. Hal ini merupakan merupakan parameter yang perlu di pantau secara rutin guna untuk mengetahui kelayakan suatu perairan untuk mendukung kehidupan ikan nila yang dibudidayakan.  Kuallitas air yang baik juga harus terbebas dari pencemaran seperti bahan organik, anorganik, dan limbah industri. Kualitas air
yang baik akan mendukung berlangsungnya kehidupan ikan yang dibudidayakan.Kualitas air yang baik adalah air yang memenuhi syarat untuk kehidupan yang layak bagi ikan . Beberapa parameter kualitas air yang perlu dipantau diantaranya :

a.    Salinitas
Ikan nila merupakan ikan yang biasa hidup di air tawar, sehingga untuk membudidayakan diperairan payau atau tambak perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu secara bertahap sekitar 1-2 minggu.   Perubahan salinitas tiap harinya sebaiknya sekitar 2-3 ‰ , agar ikan nila dapat beradaptasi dan tidak stress.   Ikan Nila tergolong ikan yang dapat bertahan pada kisaran salinitas yang luas dari 0-35 ‰. Ikan nila tumbuh dengan sangat baik pada salinitas 15 ppt, sedangkan nila merah dapat tumbuh pada salinitas mendekati air laut. Pemantauan salinitas air tambak, perlu dilakukan setiap hari. Apabila terjadi perubahan salinitas secara mendadak, maka perlu dilakukan penanganan berupa pergantian air.
 b.      pH air
Ikan Nila Merah biasanya dapat hidup pada kisaran pH sekitar 6 - 8,5. Sedangkan pH yang optimal agar ikan nila dapat hidup dengan baik dengan kisaran 7 - 8.  Ikan Nila Merah yang masih kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan ikan yang sudah besar.  Nilai pH perairan yang cocok untuk Ikan Nila  adalah 7,2 - 7,7.Untuk mengetahui pH air, biasa di ukur dengan beragam alat misalnya kertas lakmus, atau sekarang banyak diproduksi alat baru yang di sebut pH meter yang biasa berguna untuk mengukur pH air.Pengukuran pH air dilakukan setiap hari minimal dua kali. Apabila terjadi guncangan pH air, perlu dilakukan pergantian air atau pengapuran tambak.

c.      Suhu
Suhu adalah naik turunnya tingkatan suatu perairan yang di akibatkan oleh perubahan lingkungan yang terjadi sewaktu-waktu akibat adanya curah hujan maupun sinar matahari.  Alat yang di pakai dalam pengukuran suhu ialah thermometer.Suhu yang optimal bagi Nila untuk dapat bertahan hidup dengan baik adalah berkisar antara 25-32 ºC. Pertumbuhan dan kehidupan ikan nila sangat dipengaruhi oleh suhu dan perubahan suhu air yang drastis dapat mematikan ikan yang dipelihara. Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan di perairan adalah antara 28ºC - 32ºC.

d.    Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut adalah kandungan oksigen yang terdapat di tambak yang mana dimanfaatkan oleh ikan untuk respirasi atau pernapasan, sehingga dapat menunjang kehidupan ikan yang ada pada perairan tersebut.  Pengukuran oksigen terlarut menggunakan alat yang di namakan Do meter.  Oksigen terlarut pada tambak pemeliharaan Nila  berkisar  5,0 – 8,0 g/ml.

e.    Kekeruhan

Kekeruhan air disebabkan oleh kandungan lumpur yang berlebihan atau disebabkan oleh pertumbuhan plankton yang bloming. Kekeruhan yang disebabkan oleh pelumpuran,  akan memperlambat pertumbuhan ikan.  Air yang kaya akan plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecoklatan karena mengandung diatomae.  Plankton ini baik untuk makanan Ikan Nila sedangkan untuk plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. 
Tingkat kecerahan air karena plankton harus di kendalikan.  Derajat kecerahan air di ukur dengan alat yang di sebut piring secchi.  Untuk di tambak dan di tambak, angka kecerahan yang baik antara 20 - 25 cm.  Cara menggunakan piring secchi disc adalah dengan menenggelamkannya ditambak pada kedalaman air 20-35 cm.  Bila angka secchi  kurang dari 20 cm berarti planton terlalu padat.  Hal tersebut sangat berbahaya bagi ikan karena plankton yang pekat itu dapat mati serentak dan membusuk dalam air sehingga air menjadi bau dan kekurangan oksigen, akibatnya ikan akan mati. Apabila terjadi kekeruhan yang tinggi, maka perlu dilakukan pengenceran dengan cara melakukan pergantian air. Apabila kekeruhan diatas 30 cm, berarti makan alami mulai berkurang, maka perlu dilakukan pemupukan.

2.        Pemberian Pakan
Pakan merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam kegiatan budidaya, karena dengan adanya ketersediaan pakan yang cukup dan memiliki nilai gizi yang baik maka akan membantu untuk pertumbuhan ikan, pertahanan hidup, dan juga reproduksi. Pemberian pakan tambahan dilakukan apabila makanan alami sudah mulai berkurang.
Pemberian pakan dalam jumlah yang cukup dan berkualitas tinggi sangat membantu pertumbuhan Ikan Nila Merah. Pakan yang diberikan yaitu pakan berupa pellet. Dosis pakan pada bulan pertama sebesar 5% dari biomassa per hari. Selanjutnya, pada bulan kedua jumlah pakannya 4% dari biomassa per hari dan seterusnya dikurangi menjadi 3% dari biomassa per hari. Pemberian pakan setiap hari diberikan sebanyak 2 kali yaitu yaitu pada jam 08.00 pagi dan jam 17.00 sore. Pembesaran ikan dilakukan selama  3- 4 bulan sesuai ukuran ikan yang diinginkan. Pembesaran ikan dengan ukuran benih 3 – 5 cm dan dipelihara selama 4 bulan, akan menghasilkan  bobot ikan ± 500 gram.

3.      Sampling
Sampling adalah penimbangan beberapa ekor ikan yang diambil secara acak sebagai sampel yang  bertujuan untuk mengetahui bobot terkini baik rataan perindividu maupun bobot total ikan yang dibudidayakan. Sampling juga dimaksudkan untuk mengetahui laju pertumbuhan, nilai konversi pakan yang diberikan (FCR), sintasan/kelulushidupan (SR) dan efisiensi penggunaan pakan serta dapat menghitung kebutuhan pakan lanjutan.
Sampling pertumbuhan dilakukan dengan mengukur panjang total dan bobot tubuh benih ikan.  Pengukuran dilakukan dengan menggunakan timbangan dan penggaris.  Sampling di lakukan secara acak dengan mengambil sebanyak 30 ekor ikan dan  hasilnya dicatat di buku jurnal harian guna untuk mengetahui pertumbuhan dari ikan tersebut
Agar tidak terjadi dampak negatif dan stress terhadap ikan yang dibudidayakan sebaiknya sampling dilakukan setiap dua minggun sekali saja pada pagi atau sore hari ketika suhu air rendah.

4.      Pengendalian Hama dan Penyakit
Selama kegiatan budidaya berlangsung, dilakukan pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya dampak buruk bagi ikan akibat kondisi ekstrim, serangan hama dan penyakit, dengan cara memperhatikan perilaku ikan diantaranya:
      
-  Pengamatan terhadap perubahan warna tubuh, nafsu makan dan pertumbuhan ikan.
-     Pengamatan berkala terhadap sisik, sirip, insang serta produksi lendir ikan.
-     Bila ditemukan ada ikan yang sakit segera dipisahkan/dikeluarkan dari areal tambak.
Hama yang merugikan bagi pembudidaya Ikan Nila adalah hama competitor, perusak maupun hama predator.  Hama kompetitor adalah hama penyaing dari segi memperoleh pakan seperti ikan mujair, kepiting yang selalu merusak pematang dan juga membuat lubang, dan untuk hama predator adalah sebagai pemangsa seperti belut, biawak, dan burung. 
Untuk mengatasi hama yang akan menyerang ikan yang dipelihara, dilakukan pengontrolan disekitar tambak dengan memperhatikan apakah terdapat kebocoran pada pematang atau tidak.  Namun, apabila terdapat kebocoran maka segera dilakukan penempelan lumpur pada pematang tersebut. 
Sementara itu, untuk memantau penyakit yang kemungkian menyerang Ikan Nila seperti : bakteri, virus, dan protozoa, dilakukan pengamatan dengan memperhatikan kondisi ikan. ciri-ciri ikan sakit dan kemungkinan terserang penyakit atau kondisi tambak yang kurang baik diantaranya :
-      Berenang tidak beraturan.
-      Terdapat luka di permukaan tubuh ikan.
-      Bintik-bintik putih pada permukaan tubuh ikan.
-      Mata ikan mengalami pembengkakan.
-      Warna tubuh ikan tidak cerah.
-      Tidak ada nafsu makan.
Pencegahan penyakit dilakukan setiap saat dengan memantau kualitas air, melakukan karantina ikan yang terinfeksi, menggunakan bibit yang bebas penyakit. Selanjutnya memperhatikan kondisi tambak dan pemberian pakan. Bila terjadi serangan penyakit, jumlah  pemberian pakan perlu dikurangi, selanjutnya dilakukan pergantian air. Ikan yang terinfeksi penyakit, diberi pengobatan hingga sehat dengan menggunakan obat-obatan yang mendapat izin dari pemerintah.

E.       Panen
Pemanenan dilakukan apabila ikan berumur 3 – 4 bulan atau telah mencapai ukuran nilai ekonomis yaitu ukuran mulai dari 300 – 1.000 gram/ekor, tergantung dari permintaan pasar. Pemanenan dapat dilakukan secara bertahap atau panen total. Panen bertahap dilakukan dengan memanen ikan sesuai ukuran berat permintaan pasar. Pemanenan ikan dilakukan dengan menurunkan ketinggian air sehingga ikan berkumpul di caren atau parit keliling. Selanjutnya dilakukan penangkapan menggunakan jaring. Ikan yang belum sesuai ukuran, dipelihara kembali sampai ukuran konsumsi.
Ada dua jenis sistem penjualan ikan yang dipanen yaitu : ikan jual hidup dan ikan yang dijual dalam keadaan mati atau di es.Penanganan ikan yang akan dijual hidup hampir sama dengan melakukan pemanenan dan pengepakan untuk benih. Ukuran kantong yang digunakan umumnya 100 cm x 50 cm, diisi air 8 liter dan diisi ikan tiap kantong berkisar 2 – 4 kg. Selama pengangkutan, suhu air diturunkan menjadi 22 – 23 ºC hingga ikan akan menjadi lebih tenang. Sebelum ikan diangkut, dilakukan pemberokan minimal 1 hari.
Pengangkutan ikan dalam keadaan mati, menggunakan es curah dengan perbandingan antara ikan dan es 1:1. Sebelum dilakukan pengangkutan, terlebih dahulu ikan dicuci bersih dan selanjutnya dilakukan dimasukkan kedalam insulated box.


 
V.       PENUTUP

Demikianlah rumusan kebutuhan teknologi budidaya ikan nila di tambak untuk Pokdakan Berua Desa Salenrang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros. Besar harapan agar para aggota kkelompok dapat menjadikan bahan pertimbangan untuk menerapkan teknologi budidayakan nila di tambak, mengingat ikan nila mudah dibudidayakan di tambak.





BAHAN BACAAN


http://info--budidaya.blogspot.co.id/2012/06/jenis-jenis -ikan-nila.html. Diakses, tanggal 2 Februari 2017


http://www.banyudadi.com/pembesaran-ikan-nila-di-tambak-air-payau/ .Diakses tanggal 2Februari 2017.



http://keluargagunarso.blogspot.co.id/2016/02/pembesaran-ikan-nila-di-tambak.html . Diakses tanggal 2 Februari 2017.


Anonimous, 2011. Panduan Budidaya Ikan Nila Sistem Keramba Jaring Apung. Better Management Practices. WWF- Indonesia.

................., 2012. Budidaya Ikan Nila Merah di Tambak. Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Cetakan V.

Imron, dkk.  2013. Budidaya Ikan Nila Srikandi di Tambak. Rekomendasi teknologi Kelautan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Khairuman, dan K Amri, 2008 . Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi, Cetakan I, jakarta : Agro Media Pustaka.

Suharti R, 2011. Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.


1 komentar: