MERUMUSKAN KEBUTUHAN
TEKNOLOGI PERIKANAN
“ BUDIDAYA IKAN NILA
DITAMBAK “
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan usaha budidaya ditambak merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
produksi Perikanan dan diharapkan meningkatkan pendapatan pelaku utama yang
akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan pelaku utama. Usaha budidaya ditambak
sudah lama dilakukan oleh pelaku utama dan komudidtas yang diusahakan yaitu
udang, ikan bandeng dan rumput laut.
Di beberapa wilayah, khususnya di kelompok pembudidaya ikan (pokdakan)
Berua Dusun Rammang – Rammang Desa Salenrang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros,
pengembangan usaha budidaya udang dan ikan bandeng belum bisa dikembangkan
secara optimal. Hal ini disebabkan karena potensi tambak yang dimiliki oleh
anggota kelompok berjumlah 17,00 Ha yang dikelola oleh 20 orang anggota, air
yang digunakan untuk budidaya merupakan
air cenderung mengarah ke air tawar, karena salinitasnya selama lima bulan
umumnya dibawah sepuluh pormil.
Keadaan ini diupayakan oleh anggota kelompok untuk melakukan budidaya
ikan nila ditambak. Budidaya ikan nila dapat dilakukan mulai pada awal musim
hujan yaitu bulan Desember sampai dengan bulan Mei setiap tahunnya. Kondisi air tambak pada saat itu merupakan
air tawar dan menjelang bulan april kualitas air khususnya salinitas sudah
mengarah ke air payau, namun untuk usaha budidaya ikan nila masih sangat
dimungkinkan karena ikan nila merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai
sifat euryhaline yaitu mampu
beradaptasi terhadap salinitas rendah sampai tinggi dan mampu hidup pada
kisaran salinita antara 0 – 45 ‰ (pormil) sehingga jenis ikan potensial untuk
dibudidayakan di tambak.
Keunggulan
ikan ini ialah pertumbuhannya sangat cepat, respons terhadap pakan buatan,
resisten atau tahan terhadap serangan penyakit, dapat hidup terhadap
penebaran yang tinggi, rasa dagingnya enak serta pemasarannya sudah meluas baik
konsumsi dalam negeri maupun luar negeri.
Pengembangan ikan nila
ditambak , anggota kelompok belum menguasai teknologinya, sehingga anggota
kelompok membutuhkan rumusah teknlogi budidaya yang dapat digunakan sebagai
pedoman untuk melakukan budidaya. Teknologi budidaya yang diharapkan anggota yaitu mulai dari
persyaratan lokasi, persiapan tambak, penebaran dan pemeliharaan dan panen.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka
dirumuskanlah kebutuhan teknologi budidaya ikan nila ditambak.Rumusan kebutuhan
teknologi Budidaya ikan nila di tambak, akan menjadi bahan pertimbangan bagi
anggota kelompok untuk mengetahui dan menerapkan teknologi budidaya ikan nila
ditambak.
B.
Tujuan
Tujuan disusunnya rumusan kebutuhan
teknologi ini adalah :
1.
Sebagai pedoman bagi anggota kelompok yang akan melakukan
budidaya ikan nila di tambak.
2.
Meningkatkan kapasitas pelaku utama dalam
mengelola tambaknya pada usaha budidaya ikan nila di tambak.
C.
Sasaran
Anggota
kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Berua Desa Salerang Kecamtan Bontoa
Kabupaten Maros berjumlah 20 orang.
D.
Manfaat
Manfaat
rumusan ini yaitu sebagai pedoman bagi
anggota kelompok yang memelihara ikan nila di tambak.
II.
KONDISI KELOMPOK
PELAKU UTAMA
Kelompok
pembudidaya ikan (pokdakan) Berua adalah salah satu kelompok di Desa Salenrang
beranggotakan sebanyak 20 orang,
memiliki lahan tambak seluas 17,00Ha. Komoditi yang diusahakan anggota
saat ini yaitu udang dan ikan bandeng. Para anggota telah menerapkan teknologi
budidaya dengan pola polykultur. Jenis udang yang dibudidayakan umumnya udang
windu dengan padat tebar antara 5.000-15.000 ekor/Ha dan nener berjumlah 1.000
– 1.500 ekor/ha. Produksi yang dicapai
yaitu udang rata-rata 85 kg/Ha dan ikan bandeng rata-rata 200 kg/ Ha.
Wilayah
kelompok Berua memiliki kondisi wilayah yang sumber airnya berasal dari sungai
dan kondisi kualitas air perairan tersebut yaitu berupa air tawar dan pada
bulan April sampai dengan bulan November kulaitas airnya cenderung payau,
keadaan ini memungkinkan untuk budidaya ikan nila.
Budidaya
ikan nila sudah dikenal oleh anggota kelompok, karena sudah pernah dilakukan
percontohan budidaya ikan nila sistim mina padi. Produksi hasil mina padi
tersebut dilanjutkan untuk dibudidayakan
ditambak pada awal bulan April sampai dengan bulanJuni. Hasil
produksinya belum maksimal karena
anggota kelompok belum mengusai teknologinya.
Para
anggota sangat antusias untuk budidaya ikan nilai karena mempunyai keunggulan yaitu : (a) pemasarannya sangat
mudah, karena rammang-Rammang daerah pariwisata dan beberapa tempat membutuhkan
ikan nila sebagai salah satu menu di warung makan, (b) Mudah dipelihara, (c)
diterima dimasayarakat.
III. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI
Budidaya
ikan nila di tambak yang telah dilakukan oleh anggota kelompok, mengalami
permasalahan sehingga produksinya belum optimal. Masalah-masalah yang dijumpai
diantaranya :
1.
Persiapan tambak masih belum optimal sehingga
gas-gas beracun yang ada dapat
berpengaruh terhadap ikan yang dipeilhara.
2.
Pakan alami belum optimal pertumbuhannya
sehingga memasuki bulan kedua, sudah mulai berkurang.
3.
Belum dilakukan pemberantasan hama secara
baik,sehingga masih ada ikan-ikan liar yang hidup dan menjadi penyaing dalam
budidaya ikan nila.
4.
Pengangkutanbenih belum dikuasai oleh anggota
kelompok sehingga benih yang diangkut sering terjadi ada yang mati.
5.
Pemberian pakan tambahan belum dikuasai oleh
anggota baik, dosis, waktu dan jumlah pemberian.
IV. RUMUSAN TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN NILA DI TAMBAK
Untuk
memudahkan anggota kelompok melakukan budidaya ikan nila dan tersedianya
teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh anggota maka dirumuskanlah teknologi budidaya ikan.
A.
Persyaratan
Lokasi
Persyaratan lokasi yang dapat dijadikan tempat
budidaya ikan nila ditambak diantaranya
:
1.
Sumber Air
2.
Memiliki
sumber air laut dan air tawar yang baik dan tidak tercemar. Memenuhi
persyaratan kualiatas air : 1) salinitas air : 0 – 35 ‰, 2) pH : 6,5 – 8,0, 3)
oksigen terlarut : 5,0 – 8,0, 4) suhu 25 – 32 ⁰C, 5) kedalaman tambak: 50-100
cm.
3.
Lokasi tambak
yang baik yaitu tambak yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan
maksud untuk memudahkan pergantian air di dalam tambak. Saluran keluar masuknya
air cukup lancar dan tergantung pada kondisi geografisnya.
4.
Lokasi yang
mempunyai tekstur tanah yang kedap air (tidak poros) diantaranya lempung
berpasir, liat, lempung liat, lempung berpasir dan lempung berlumpur atau liat
berpasir.
5.
Lahan pantai
dengan elevasi terendam air sedalam 0,5 – 1,0 m selama periode rata-rata pasang
tinggi, dan dapat dikeringkan secara tuntas pada saat surut terendah.
6.
Kondisi air
tidak terlalu keruh sehingga matahari dapat langsung menembus kedalam dasar
air.
7.
Bebas polusi
baik limbah yang berasal dari pabrik industry maupun rumah tangga.
Aspek lain yang harus diperhatikan ialah aspek
social, hal ini terkait dengan tingkat kesiapan dan respon masyarakat dalam
menerima teknologi, dukungan dan kemauan masyarakat dalam menerima usaha
tersebut.
B.
Persiapan
Tambak
1.
Pengolahan
Tanah Dasar
Pengeringan dasar tambak hingga
retak-retak selama 3-7 hari atau jika diinjak tanah turun 1-2 cm. Sebaiknya
pelataran dicangkul sedalam 10 cm dan selama pengeringan dilakukan kedok teplok yaitu menaikkan lumpur halus keatas pematang,
tujuannya adalah untuk mempercepat proses mineralisasi (perombakan) bahan
organik dan menetralisir gas-gas beracun seperti hidrogen sulfat (H2S), amonia
(NH3) dan metan (CH4) yang berbahaya bagi ikan dipelihara. Selama pengeringan
dan keduk teplok dilakukan perbaikan
pematang serta pintu air dan kelengkapannya yaitu memasang saringan # 0,5 mm dipintu air. Pemasangan saringan harus
dilaksanakan secara cermat agar selama pemeliharaan ikan tidak lepas. Dianjurkan
memasang kere bambu didepan pintu air didalam petakan tambak. Kere tersebut dilapisi kasa nylon dengan mata jala
0,5 – 1,0 mm. untuk mengetahui ketiggian air selama pemeliharaan, perlu
dipasang papan penunjuk ketinggian air dan dipasang dipelataran tambak.
2.
Pemberantasan
Hama
Pemberantasan hama dilakukan untuk
membunuh ikan-ikan liar dan hewan lainnya yang ada dalam tambak, dapat
mengganggu pertumbuhan ikan nila. Ikan-ikan liar merupakan predator dan
kompetitor bagi ikan yang dipelihara. Pemberantasan hama menggunakan bungkil
biji teh (saponin) dengan dosis sebagai berikut:
Kadar garam kurang dari 15 ppt: 20 ppm ( 20 – 30 kg/Ha)
Kadar garam lebih
dari 15 ppt: 15 ppm (15 – 20
Kg/Ha)
Aplikasi penggunaan saponin yaitu
terlebih dahulu saponin direndam selama 12 jam. Selanjutnya ditebar secara
merata dalam tambak pada saat ketinggian air tambak 10 cm. Bahan aktif saponin
akan hilang setelah 2 hari aplikasi.
3.
Pengapuran
Pengapuran dasar tambak dilakukan untuk
menetralkan atau menaikkan pH sampai normal (6,5 – 8,0) dan sekaligus
mengurangi bakteri patogen. .Jumlah kapur yang digunakan tergantung nilai pH
tanah dasar. Makin rendah pH tanah, semakin tinggi jumlah kapur yang
diperlukan. Dosis kapur Kg/Ha berdasarkan pH tanah yang digunakan sebagai
berikut :
Tabel 1. Dosis Penggunaan Kapur dan jenis
kapur di Tambak.
pH Tanah
|
Kapur Pertanian (CaCO3)
|
Kapur Tohor /Bakar Ca (OH)2)
|
> 6
|
< 1.000 kg
|
< 750 kg
|
5 – 6
|
< 2.000 kg
|
< 1.000 kg
|
> 5
|
< 3.000 kg
|
< 1.500 kg
|
4.
Pemupukan
Pemupukan tambak dengan maksud
meningkatkan unsur
hara yang diperlukan oleh jasad pakan
alami yang ingin ditumbuhkan . Pupuk yang digunakan berupa pupuk organik dan an organik. Pupuk organik yang
digunakan diantaranya pupuk kotoran ayam, kotoran sapi , pupuk kompos, bhokasi, dosis 1 – 3 ton /ha, ditebar pada saat dasar tambak masih kering. Pupuk an organik dilakukan dengan dosis urea 100 kg/Ha dan SP
75 Kg/Ha, ditebar merata dipelataran saat tambak masih macak-macak. Selanjutnya
air tambak ditinggikan menjadi10 cm diatas pelataran. Setelah 1 minggu saat
klekap mulai tumbuh di dasar tambak, air ditambah lagi sampai
30-40 cm. selanjutnya menjelang
penebaran dilakukan penambahan air sampai setinggi 70-100 cm.
C.
Penebaran
Benih
Setelah makanan alami
sudah tumbuh, maka tambak siap untuk ditebari. Ketersediaan benih ikan harus
disiapkan pada saat persiapan tambak,
yaitu dengan cara memesan benih ikan di panti pembenihan ikan nila sesuai jumlah yang yang akan ditebar.
Pemilihan panti pembenihan ikan yang ditempati untuk membeli benih ikan, harus
mempunyai cara pembibitan yang baik serta mempunyai catatan mengenai asal
induk, pakan, obat yang digunakan serta informasi penting lainnya yang
dibutuhkan tentang benih ikan. tujuannya ; agar diperoleh benih yang baik dan
sehat karena diperoleh dari seleksi benih yang baik.
Kualitas benih ikan
yang ditebar sangat menentukan keberhasilan budidaya ikan nila dan benih yang
kurang sehat atau sakit akan terhambat pertumbuhannya dan berbahaya karena akan
menularkan penyakit ke ikan lainnya pada wadah pemeliharaan yang sama.
Secara morfologi,
benih ikan yang mempunyai kualitas yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut
:
1)
Bentuk badan normal dan masih ada lendir.
2)
Berasal dari mono ras/hibrid dari galur murni
3)
Gerakan ikan lincah.
4)
Mempunyai respon yang tinggi terhadap pakan
yang diberikan.
5)
Ukurannya seragam dan umurnya sama.
6)
Tidak terdapat luka
7)
Bebas dan tahan dari penyakit.
8)
Warna cerah.
9)
Tubuh tidak mengalami cacat.
10) Laju
pertumbuhan cepat.
11) Sehat
dan tidak cacat fisik
Sebelum
penebaran, langkah awal yang perlu dipertimbangkan adalah pengangkutan benih.
Ada dua jenis sistem pengangkutan benih yang digunakan dalam pengiriman ikan
nila, yaitu pengangkutan sistem tertutup dan sistem terbuka.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan benih, yaitu sebagai berikut :
a. Jumlah benih yang diangkut tergantung pada
ukuran benih dan waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan.
b. Benih hendaknya di berokkan (tidak di beri
pakan) dahulu selama satu hari.
Pengangkutan
benih dilkukan dengan sistim tertutup, terutama pengangkutan yang memerlukan
waktu lebih 4 jam. Pengangukan dilakukan dengan menggunakan kantong plastic
volume 8 liter dan diberi buffer sebanyak 9 gram. Perbandingan oksigen dengan
air yaitu 1:1.
Penebaran bibit dilakukan pada pagi sebelum
pukul 08.00 atau sore hari antara 17.00 – 20.00 malam, pada saat suhu air tidak
panas. Sebelum penebaran, harus dilakuakn penyesuaian terhadap lingkungan agar
tidak stress. Penyesuaian lingkungan dilakukan terhadap suhu dan salinitas.
Penyesuaian suhu dilakukan dengan cara bibit yang tiba di tambak,
diapung-apungkan pada sudut tambak lebih kurang 30 – 45 menit. Apabila kantong
plastic sudah berembun, berarti suhu sudah sesuai.Selanjutnya dilakukan
penyesuaian salinitas. Sebelum dilakukan penyesuaian salinitas, dilakukan
pengukuran untuk mengetahui salinitas air tambak. Selanjutnya kantong plastic
di dibuka dan dilakukan penambahan air tambak ke dalam kantong plastic sedikit
demi sedikit. Miringkan kantong plastic sehingga bibit ikan yang kuat dan telah
sesuai dengan kondisi air akan segera
keluar dan biarkan hingga ikan keluar
seluruhnya.
Ukuran benih yang ideal
untuk pembesaran ditambak adalah minimal zise 5 – 8 cm dengan berat rata2 6
gram/ekor. Padat penebaran benih ikan nila disesuaikan dengan daya dukung
lahan, kondisi kualitas air dan pola
usaha yang akan diterapkan.. Padat tebar yang dianjurkan seperti tabel 2:
Tabel 2. Padat Tebar Ideal
untuk Budidaya Ikan Nila di Tambak
JENIS IKAN
|
Padat Tebar (ekor/m²)
|
Tradisional
|
Semi intensif
|
intensif
|
Nila Hitam
|
1 - 2
|
3 - 5
|
5 – 7
|
Nila Merah
|
1 - 3
|
3 - 7
|
5 - 10
|
Sumber : Linggi K (2015)
D.
Pemeliharaan
Teknik
pemeliharaan pada pembesaran ikan Nila harus dilakukan secara optimal agar
tidak mengalami kegagalan dalam kegiatan budidaya. Hal yang diperhatikan dalam
membudidayakan ikan Nila yaitu lingkungan budidaya yang meliputi faktor fisika,
kimia, dan biologi serta melakukan
pengendalian terhadap ancaman hama dan penyakit bagi ikan yang dibudidayakan.
Faktor fisika meliputi kecerahan, kekeruhan, dan salinitas yang terdapat dalam
air, kemudian faktor kimia mencakup pH,
Alkalinitas, suhu, dan oksigen terlarut, serta biologi mengenai tumbuhan,
plankton atau makanan alami yang dapat
berpengaruh terhadap ikan yang dipelihara. Keadaan air disekitar tambak
budidaya yang harus tetap stabil, karena apabila hal tersebut tidak
diperhatikan akan berdampak buruk dan lambat laun dapat mengakibatkan kematian
bagi ikan. Teknik pemeliharaan Nila Merah
(Oreochromis niloticus) ditambak
pembesaran memiliki beberapa hal yang
harus perhatikan diantaranya sebagai berikut:
1. Pemantauan Kualitas Air
Satu diantara beberapa faktor yang
berpengaruh dalam kegiatan budidaya untuk pembesaran ikan nila di tambak adalah
kualitas air. Hal ini merupakan merupakan parameter yang perlu di pantau secara
rutin guna untuk mengetahui kelayakan suatu perairan untuk mendukung kehidupan
ikan nila yang dibudidayakan. Kuallitas
air yang baik juga harus terbebas dari pencemaran seperti bahan organik, anorganik,
dan limbah industri. Kualitas air
yang baik akan mendukung berlangsungnya
kehidupan ikan yang dibudidayakan.Kualitas air yang baik adalah air yang
memenuhi syarat untuk kehidupan yang layak bagi ikan . Beberapa parameter
kualitas air yang perlu dipantau diantaranya :
a.
Salinitas
Ikan nila merupakan ikan yang biasa
hidup di air tawar, sehingga untuk membudidayakan diperairan payau atau tambak
perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu secara bertahap sekitar 1-2
minggu. Perubahan salinitas tiap
harinya sebaiknya sekitar 2-3 ‰ , agar ikan nila dapat beradaptasi dan tidak
stress. Ikan Nila tergolong ikan yang
dapat bertahan pada kisaran salinitas yang luas dari 0-35 ‰. Ikan nila tumbuh
dengan sangat baik pada salinitas 15 ppt, sedangkan nila merah dapat tumbuh
pada salinitas mendekati air laut. Pemantauan salinitas air tambak, perlu
dilakukan setiap hari. Apabila terjadi perubahan salinitas secara mendadak,
maka perlu dilakukan penanganan berupa pergantian air.
b.
pH
air
Ikan Nila Merah
biasanya dapat hidup pada kisaran pH sekitar 6 - 8,5. Sedangkan pH yang optimal
agar ikan nila dapat hidup dengan baik dengan kisaran 7 - 8. Ikan Nila Merah yang masih kecil lebih tahan
terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan ikan yang sudah besar. Nilai pH perairan yang cocok untuk Ikan
Nila adalah 7,2 - 7,7.Untuk mengetahui
pH air, biasa di ukur dengan beragam alat misalnya kertas lakmus, atau sekarang
banyak diproduksi alat baru yang di sebut pH meter yang biasa berguna untuk
mengukur pH air.Pengukuran pH air dilakukan setiap hari minimal dua kali.
Apabila terjadi guncangan pH air, perlu dilakukan pergantian air atau
pengapuran tambak.
c.
Suhu
Suhu adalah naik turunnya tingkatan
suatu perairan yang di akibatkan oleh perubahan lingkungan yang terjadi sewaktu-waktu
akibat adanya curah hujan maupun sinar matahari. Alat yang di pakai dalam pengukuran suhu
ialah thermometer.Suhu yang optimal bagi Nila untuk dapat bertahan hidup dengan
baik adalah berkisar antara 25-32 ºC. Pertumbuhan dan kehidupan ikan nila
sangat dipengaruhi oleh suhu dan perubahan suhu air yang drastis dapat
mematikan ikan yang dipelihara. Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan di
perairan adalah antara 28ºC - 32ºC.
d.
Oksigen
Terlarut
Oksigen terlarut adalah kandungan
oksigen yang terdapat di tambak yang mana dimanfaatkan oleh ikan untuk
respirasi atau pernapasan, sehingga dapat menunjang kehidupan ikan yang ada
pada perairan tersebut. Pengukuran
oksigen terlarut menggunakan alat yang di namakan Do meter. Oksigen terlarut pada tambak pemeliharaan
Nila berkisar 5,0 – 8,0 g/ml.
e.
Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan oleh kandungan
lumpur yang berlebihan atau disebabkan oleh pertumbuhan plankton yang bloming.
Kekeruhan yang disebabkan oleh pelumpuran,
akan memperlambat pertumbuhan ikan.
Air yang kaya akan plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau
kecoklatan karena mengandung diatomae.
Plankton ini baik untuk makanan Ikan Nila sedangkan untuk plankton/alga
biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan.
Tingkat kecerahan air karena plankton
harus di kendalikan. Derajat kecerahan
air di ukur dengan alat yang di sebut piring secchi. Untuk di tambak dan di tambak, angka
kecerahan yang baik antara 20 - 25 cm.
Cara menggunakan piring secchi disc adalah dengan menenggelamkannya
ditambak pada kedalaman air 20-35 cm.
Bila angka secchi kurang dari 20
cm berarti planton terlalu padat. Hal
tersebut sangat berbahaya bagi ikan karena plankton yang pekat itu dapat mati
serentak dan membusuk dalam air sehingga air menjadi bau dan kekurangan oksigen,
akibatnya ikan akan mati. Apabila terjadi kekeruhan yang tinggi, maka perlu
dilakukan pengenceran dengan cara melakukan pergantian air. Apabila kekeruhan
diatas 30 cm, berarti makan alami mulai berkurang, maka perlu dilakukan
pemupukan.
2.
Pemberian
Pakan
Pakan merupakan salah satu bagian yang
sangat penting dalam kegiatan budidaya, karena dengan adanya ketersediaan pakan
yang cukup dan memiliki nilai gizi yang baik maka akan membantu untuk
pertumbuhan ikan, pertahanan hidup, dan juga reproduksi. Pemberian pakan
tambahan dilakukan apabila makanan alami sudah mulai berkurang.
Pemberian pakan dalam jumlah yang cukup dan
berkualitas tinggi sangat membantu pertumbuhan Ikan Nila Merah. Pakan yang diberikan yaitu pakan berupa pellet. Dosis pakan pada bulan pertama
sebesar 5% dari biomassa per hari. Selanjutnya, pada bulan kedua jumlah
pakannya 4% dari biomassa per hari dan seterusnya dikurangi menjadi 3% dari
biomassa per hari. Pemberian pakan setiap hari diberikan sebanyak 2 kali yaitu yaitu pada jam
08.00 pagi dan jam 17.00 sore. Pembesaran ikan dilakukan selama 3- 4 bulan sesuai ukuran ikan yang
diinginkan. Pembesaran ikan dengan ukuran benih 3 – 5 cm dan dipelihara selama
4 bulan, akan menghasilkan bobot ikan ±
500 gram.
3.
Sampling
Sampling adalah penimbangan beberapa
ekor ikan yang diambil secara acak sebagai sampel yang bertujuan untuk mengetahui bobot terkini baik
rataan perindividu maupun bobot total ikan yang dibudidayakan. Sampling juga
dimaksudkan untuk mengetahui laju pertumbuhan, nilai konversi pakan yang
diberikan (FCR), sintasan/kelulushidupan (SR) dan efisiensi penggunaan pakan
serta dapat menghitung kebutuhan pakan lanjutan.
Sampling pertumbuhan dilakukan dengan
mengukur panjang total dan bobot tubuh benih ikan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan
timbangan dan penggaris. Sampling di
lakukan secara acak dengan mengambil sebanyak 30 ekor ikan dan hasilnya dicatat di buku jurnal harian guna
untuk mengetahui pertumbuhan dari ikan tersebut
Agar tidak terjadi dampak negatif dan
stress terhadap ikan yang dibudidayakan sebaiknya sampling dilakukan setiap dua
minggun sekali saja pada pagi atau sore hari ketika suhu air rendah.
4.
Pengendalian
Hama dan Penyakit
Selama
kegiatan budidaya berlangsung, dilakukan pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya
dampak buruk bagi ikan akibat kondisi ekstrim, serangan hama dan penyakit,
dengan cara memperhatikan perilaku ikan diantaranya:
- Pengamatan
terhadap perubahan warna tubuh, nafsu makan dan pertumbuhan ikan.
- Pengamatan
berkala terhadap sisik, sirip, insang serta produksi lendir ikan.
- Bila
ditemukan ada ikan yang sakit segera dipisahkan/dikeluarkan dari areal tambak.
Hama
yang merugikan bagi pembudidaya Ikan Nila adalah hama competitor, perusak
maupun hama predator. Hama kompetitor
adalah hama penyaing dari segi memperoleh pakan seperti ikan mujair, kepiting
yang selalu merusak pematang dan juga membuat lubang, dan untuk hama predator
adalah sebagai pemangsa seperti belut, biawak, dan burung.
Untuk
mengatasi hama yang akan menyerang ikan yang dipelihara, dilakukan pengontrolan
disekitar tambak dengan memperhatikan apakah terdapat kebocoran pada pematang
atau tidak. Namun, apabila terdapat
kebocoran maka segera dilakukan penempelan lumpur pada pematang tersebut.
Sementara
itu, untuk memantau penyakit yang kemungkian menyerang Ikan Nila seperti : bakteri,
virus, dan protozoa, dilakukan pengamatan dengan memperhatikan kondisi ikan.
ciri-ciri ikan sakit dan kemungkinan terserang penyakit atau kondisi tambak
yang kurang baik diantaranya :
- Berenang
tidak beraturan.
- Terdapat luka
di permukaan tubuh ikan.
- Bintik-bintik
putih pada permukaan tubuh ikan.
- Mata ikan
mengalami pembengkakan.
- Warna tubuh
ikan tidak cerah.
- Tidak ada
nafsu makan.
Pencegahan
penyakit dilakukan setiap saat dengan memantau kualitas air, melakukan
karantina ikan yang terinfeksi, menggunakan bibit yang bebas penyakit.
Selanjutnya memperhatikan kondisi tambak dan pemberian pakan. Bila terjadi
serangan penyakit, jumlah pemberian
pakan perlu dikurangi, selanjutnya dilakukan pergantian air. Ikan yang
terinfeksi penyakit, diberi pengobatan hingga sehat dengan menggunakan
obat-obatan yang mendapat izin dari pemerintah.
E.
Panen
Pemanenan
dilakukan apabila ikan berumur 3 – 4 bulan atau telah mencapai ukuran nilai
ekonomis yaitu ukuran mulai dari 300 – 1.000 gram/ekor, tergantung dari
permintaan pasar. Pemanenan dapat dilakukan secara bertahap atau panen total.
Panen bertahap dilakukan dengan memanen ikan sesuai ukuran berat permintaan
pasar. Pemanenan ikan dilakukan dengan menurunkan ketinggian air sehingga ikan
berkumpul di caren atau parit keliling. Selanjutnya dilakukan penangkapan
menggunakan jaring. Ikan yang belum sesuai ukuran, dipelihara kembali sampai
ukuran konsumsi.
Ada
dua jenis sistem penjualan ikan yang dipanen yaitu : ikan jual hidup dan ikan
yang dijual dalam keadaan mati atau di es.Penanganan ikan yang akan dijual
hidup hampir sama dengan melakukan pemanenan dan pengepakan untuk benih. Ukuran
kantong yang digunakan umumnya 100 cm x 50 cm, diisi air 8 liter dan diisi ikan
tiap kantong berkisar 2 – 4 kg. Selama pengangkutan, suhu air diturunkan
menjadi 22 – 23 ºC hingga ikan akan menjadi lebih tenang. Sebelum ikan
diangkut, dilakukan pemberokan minimal 1 hari.
Pengangkutan
ikan dalam keadaan mati, menggunakan es curah dengan perbandingan antara ikan
dan es 1:1. Sebelum dilakukan pengangkutan, terlebih dahulu ikan dicuci bersih
dan selanjutnya dilakukan dimasukkan kedalam insulated box.
V. PENUTUP
Demikianlah rumusan kebutuhan teknologi
budidaya ikan nila di tambak untuk Pokdakan Berua Desa Salenrang Kecamatan
Bontoa Kabupaten Maros. Besar harapan agar para aggota kkelompok dapat
menjadikan bahan pertimbangan untuk menerapkan teknologi budidayakan nila di
tambak, mengingat ikan nila mudah dibudidayakan di tambak.
BAHAN
BACAAN
http://www.banyudadi.com/pembesaran-ikan-nila-di-tambak-air-payau/
.Diakses tanggal 2Februari 2017.
http://keluargagunarso.blogspot.co.id/2016/02/pembesaran-ikan-nila-di-tambak.html
. Diakses tanggal 2 Februari 2017.
Anonimous, 2011. Panduan Budidaya Ikan Nila Sistem
Keramba Jaring Apung. Better Management Practices. WWF- Indonesia.
................., 2012. Budidaya Ikan Nila Merah di
Tambak. Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Cetakan V.
Imron, dkk. 2013.
Budidaya Ikan Nila Srikandi di Tambak. Rekomendasi teknologi Kelautan Perikanan
2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian
Kelautan dan Perikanan.
Khairuman, dan K Amri, 2008 . Buku Pintar Budidaya 15
Ikan Konsumsi, Cetakan I, jakarta : Agro Media Pustaka.
Suharti R, 2011. Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan.
Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan
Perikanan.